Rabu, 03 November 2010

Akar Terorisme: Invasi, Pendudukan, dan Dominasi Luar Negeri


mediaumat.com- Profesor Robert Pape dari Universitas Chicago yang bekerja pada bagia Proyek Untuk Keamanan dan Terorisme baru-baru ini menerbitkan tulisan hasil penelitiannya yang luas yang menganalisa setiap kasus dari 2200 bom bunuh diri yang terjadi sejak tahun 1980. Penelitiannya itu dilakukan berdasarkan riset terdahulu yang dilakukannya sendiri pada bukunya terdahulu yang terbit pada tahun 2005 yang berjudul "Mati Untuk Menang".

Penelitiannya yang baru itu menemukan bahwa:

* Bom bunuh diri meningkat secara drastis menyusul dilakukannya invasi atas Irak dan Afghanistan, dari yang awalnya berjumlah 300 kasus pada tahun 1980 hingga tahun 2003, menjadi 1800 kasus pada tahun 2004 hingga 2009.
* Lebih dari 90 % serangan bunuh diri di seluruh dunia adalah yang berkaitan dengan anti-Amerika.
* Bertentangan dengan keyakinan bahwa serangan-serangan tersebut dilakukan oleh "orang asing", mayoritas kasus yang terjadi dilakukan oleh penduduk setempat suatu wilayah: contohnya 90% dari serangan bunuh diri di Afghanistan dilakukan oleh orang Afghan.
* Serangan bunuh diri lebih mungkin terjadi ketika"jarak sosial" antara pihak yang diduduki dan menduduki menjai lebih lebar dan bahwa agaman bukanlah faktor satu-satunya yang menentukan hal ini terjadi karena dia juga menunjuk pada kelompok-kelompok sekuler yang juga melakukan serangan-serangan bunuh diri seperti LTTE (Macan Tamil-yang bergama Hindu) melawan orang yang beragama Budha.
* Serangan bunuh diri merupakan upaya terakhir yang dilakukan manakalah semua usaha non-bunuh diri telah gagal.

Profesor Pope berargumen bahwa riset yang dilakukan oleh kelompoknya menunjukkan alasan yang mendasari Perang Melawan Teror, yakni bahwa serangan-serangan semacam ini dan juga Serangan 11/9 adalah sebuah fungsi yang dilakukan oleh kaum Muslim yang membenci nilai-nilai Barat dan oleh karenanya diperlukan Demokrasi untuk membawa stabilitas di Dunia Muslim, adalah suatu alasan yang keliru. Tulisannya menunjukkan : "(Penyebabnya) adalah pendudukan, bodoh"

Risetnya menunjukkan suatu kesimpulan pada sesuatu yang telah lama diklaim oleh banyak orang di Dunia Muslim, bahwa kejadian-kejadian sejak, dan memang sebelum 11/9 tidak bisa dipisahkan dari konteks dimana kejadian-kejadian selanjutnya terjadi.

Pengamatan yang tajam atas politik luar negeri telah lama menunjukkan bahwa Agama Islam memiliki kecendrungan akan kekerasan dan bahwa ketidak sukaan Dunia Islam dengan pengaruh Barat menyebabkan terjadinya serangan-serangan semacam itu di ibukota-ibukota negara-negara Barat untuk mengembalikan keseimbangan kekuatan dan peradaban di tangan mereka, untuk tebusan ganti rugi atas saat terjadinya Inkuisisi di Spanyol pada abad ke 15 yang mengawali nasib buruk yang diderita oleh kaum Muslim.



Secara empiris, Profesor Pape merendahkan pandangannya. Penelitiannya menunjukkan bahwa ada korelasi antara pendudukan dan kekerasan pada wilayah-wilayah yang diduduki pada saat penduduk lokal berusaha mengusir kontrol luar negeri: 95% dari semua bom bunuh diri yang dianalisa adalah merupakan respon dari pendudukan yang dilakukan pihak asing.

Para penganjur dari apa apa yang dinamakan Perang Melawan Teror telah gagal untuk memberikan interpretasi atas adanya campuran retorika faktor agama, ant-pendudukan dan anti-Amerika ketika mengidentifikasi faktor-faktor yang sesungguhnya yang mendorong terjadinya tindakan-tindakan kekerasan kebencian.

Apa yang menjadi perhatian yang lebih besar lagi adalah bahwa Perang Melawan Teror telah berubah menjadi Perang Melawan Ekstrimisme pada tahun-tahun belakangan ini. Namun, front yang baru ini melestarikan alasan yang sama, bahwa Islam adalah penyebab kebencian kaum Muslim dan menolak kenyataan bahwa Barat mengerahkan pasukannya yang pada saat ini menyebar di sebagian besar Dunia Islam, dengan mendukung rezim-rezim diktator yang telah lama bercokol dan telah lama mendukung kebijakan-kebijakan yang merugikan penduduk setempat.

Hal ini kemudian dipersulit oleh sebutan yang membingungkan yang menunjuk pada keyakinan Islam yang teguh dari kaum Muslim, yang diyakini oleh meyoritas Kaum Muslim, sebagai keyakinan yang menimbulkan banyak masalah dan karenanya harus ditentang dan direformasi.

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh penelitian Pape, konteksnya adalah raja. Tanpa adanya pendudukan militer dan politik secara langsung, hubungan yang berbeda mungkin terjadi antara Barat dan Dunia Islam, dan bukan hubungan yang sekarang mengancam baik keamanan maupun kesejahteraan bangsa-bangsa kedua belah pihak. (htb/ra)

Islam Bukan Ancaman, Tapi Solusi Bagi Indonesia



HTI Press. Islam dan umat Islam bukanlah ancaman bagi Indonesia. Justru Islam adalah solusi untuk negeri kita, ujar Abu Ulya dalam acara Dirosah Syar’iyyah di Jakarta pada Sabtu (9/10) lalu.

Dirosah Syar’iyyah edisi ke 10 yang diselenggarakan oleh Lajnah Tsaqafiyyah DPP mengangkat tema “Akar Kekerasan di Dunia Islam, Jihad dan Imperialisme Amerika Serikat”. Acara diselenggarakan di salah satu Aula Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Binawan di kawasan Kalibata Jakarta.

Sekitar 90 peserta hadir dalam acara tersebut, tampil sebagai nara sumber: Ustadz Harits Abu Ulya (ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI) dan KH. Hafidz Abdurrahman, MA (Ketua Lajnah Tsaqafiyyah DPP HTI).

Di tengah-tengah gencarnya propaganda War on Terroirsme (WOT) yang dikomandoi oleh AS, dan upaya pembubaran ormas dan kelompok Islam ‘garis keras’ yang digalang oleh pihak-pihak yang phobi terhadap Islam, kedua nara sumber menyampaikan materi yang sangat mencerahkan.

Dalam makalahnya yang berjudul Akar Kekerasan di Dunia Islam & Imperialisme, Ust. Harits Abu Ulya menyampaikan kesimpulan sbb:

Kontra terorisme dan radikalisme di Indonesia dilatarbelakangi dan didorong oleh kondisi global terancamnya penjajahan Barat atas dunia Islam. Proyek ini tidak ditujukan untuk pemberantasan terorisme semata, sebab yang mereka targetkan adalah ulama, aktivis, dan kelompok Islam ideologis yang memperjuangkan syariah dan khilafah dengan metode intelektual non kekerasan. Proyek ini meniscayakan penciptaan opini manipulatif bahwa kaum radikal yang mengusung ide syariah dan khilafah terkait dengan terorisme.Atau dalam bentuk provokasi lain, seperti (bualan) yang diungkapkan Ariel Cohen, document RAND -Muslim world afther 9/11: “Hizbut Tahrir al Islami adalah ancaman bagi kepentingan AS dan negara-negara dimana mereka beroperasi.Mereka memiliki 5000 hingga 10 ribu anggota inti radikal, dan banyak pendukung di bekas Soviet, Asia Tengah…hampir 10 ribu anggotanya aktif di Pakistan, Syiria, Turki dan Indonesia..Dengan mengemban sikap keras anti-Amerika, berusaha menumbangkan rezim yang ada, serta menyiapkan kader bagi organisasi Islam yang lebih radikal, Hizb menunjukkan ancaman bagi kepentingan AS di Asia Tengah dan dimana saja di dunia Islam tempat rezim moderat berada..”

Islam dan umat Islam bukanlah ancaman bagi Indonesia. Justru Islam adalah solusi untuk negeri kita. Inilah yang diemban Hizbut Tahrir membangun kesadaran umat; bahwa akar masalah di negeri kita karena tidak diterapkannya syariah Islam. Sedangkan penjajahan di Indonesia dan sistem kufur adalah faktor utama yang menghalangi penerapan syariah. Untuk itu umat harus bersatu memutus mata rantai penjajahan di Indonesia demi tegaknya syariah dan khilafah.

Sementara KH. Hafidz Abdurrahman, dalam makalahnya membedah Hukum Jihad dan sekaligus membedakannya dengan imperialisme:

* Empat imam mazhab sepakat, bahwa jihad adalah mengerahkan seluruh kemampuan untuk berperang di jalan Allah, dalam rangka menjunjung tinggi kalimah Allah, baik secara langsung maupun tidak.
* Jihad ofensif (al-Jihad al-Ibtida’i): Jihad bukan karena diperangi musuh, tetapi untuk memerangi kaum Kafir, agar memeluk Islam atau tunduk di bawah Negara Islam. Hukumnya fardhu Kifayah.
* Jihad defensif (al-Jihad ad-Difa’i): Jihad karena diperangi musuh. Hukumnya fardhu ‘Ain.
* Sebelum diperangi, kaum Kafir wajib diajak untuk memeluk Islam. Jika tidak mau, diajak untuk tunduk kepada negara Islam, dengan kewajiban membayar jizyah, dan darah, harta dan kebebasan beragama mereka pun dijamin (HR. Muslim dari Sulaiman bin Buraidah).
* Jika tidak bersedia, baru diperangi, dengan tetap tidak boleh membunuh wanita, anak-anak, orang tua, pendeta, merusak tempat ibadah, rumah dan menghancurkan pepohonan, dan sebagainya..

Hasilnya?

* Bangsa, suku, ras, bahasa yang berbeda-beda berhasil dilebur dalam wadah Negara Islam. Lahir ulama’ bahasa Arab dari Persia (Sibawaih), Afrika (as-Suyuthi); ahli Balaghah dari Uzbekistan (Zamakhsyari); ahli hadits dari Rusia (al-Bukhari), dsb..
* Di zaman ‘Umar tidak ada kezaliman terhadap Ahli Dzimmah..
* Di zaman ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azizi, tidak ada lagi kemiskinan di Afrika, dan negeri-negeri yang ditaklukkan ..

Sementara imperialisme adalah penjajahan untuk menguasai bangsa dan negerinya, agar bisa dikuras untuk memperkuat negara penjajah, serta melemahkan dan memiskinkan negara yang dijajah.

Hasilnya?

* AS melakukan invasi militer ke: Cina (1946-1950); Filipina (1950-1952); Guatemala (1954); Kuba (1958-1959); Libanon (1958); Laos (1960-1973); Vietnam (1960-1965); Zaire (1960-1965); Yaman Utara (1962-1969); Rep Dominika (1965); Guatemala (1966-1989); Kamboja (1970-1975); Yordania (1970); Pakistan (1971); Srilangka (1971); Muslim Filipina (1972-1989); Komunis Filipina (1972-1989); Angola (1975-1989); Afganistan (1978-1989); Iran (1978-1989); Nicaragua (1978-1979); Elsavador (1979-1989); Chad (1980-1987); Korsel (1980); Mozambique (1981-1989); Nicaragua (1981-1989); Zimbabwe (1983); Srilangka (1984-1989); Sudan (1984-1989); Somalia (1988); Irak-Kuwait (1991); Bosnia (1997); Iraq (1998); Kosovo (1999); Irak (2003-2010); Afganistan (2002-2010) (Mi Yung Yoon, Explaining US Intervention in Third Wordl Internal War, 1945-1989: 1997)

* Mark Curtis mencatat, bahwa Inggris bertanggungjawab atas kematian 10 juta orang sejak 1945 dalam berbagai konflik atau operasi militer di mana mereka memainkan peranan langsung atau saat mendukung operasi yang dilakukan sekutunya, AS (Mark Curtis, Declassified: Rogue State Britain, Januari 10 th: 2007).
* Lebih dari 1,5 juta penduduk Irak kehilangan rumah, dan terusir dari rumahnya (UNHCR, Update on the Iraq Situation, November: 2006).
* Perusahaan senjata tahun 2003, meraup untung $ 100 juta di Irak dan Afganistan.
* Pada tahun 2003: Perusahaan konstruksi Halliburton Pentagon mendapat kontrak dari USD 900 juta menjadi USD 3,9 milyar (naik 700%); Lockheed Martin USD 21,9 milyar; Boeing USD 17,3 milyar; Northrop Grumman USD 16,6 milyar hingga USD 50 milyar.
* Penyiksaan di penjara Guantanamo, Abu Ghuraib, dan penjara-penjara rahasia CIA yang ada di sejumlah negeri kaum Muslim..
* Dunia Islam: Afrika, Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah tetap menjadi negara miskin dan terbelakang..[]